Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan

Jumat, April 22, 2011

[Culture] Tokyo Sky Tree Found In Painting Made in 1831


You know the Tokyo Sky Tree, the tallest tower in Japan and the second highest in the world today, is not it?



A building similar to the Tokyo Sky Tree is found in an old painting that was made in 1831 by Utagawa Kuniyoshi (1 January 1798 - 14 April 1861), one Japanese professor of painting.

On the left side of the painting, entitled "Toto Mitsumata no Zu" (Landscape In Mitsumata, Tokyo) there is a high-rise buildings, whereas in 1831 there are no buildings that high. And most important ...

"At that time, there are rules that forbid the people to build higher buildings of Edo Castle," said museum director Fumio Saito. "The tower in this painting is standing strong in the city of Edo (now Tokyo). It is surprising to see remarkable creativity of an artist antiquity. Looks like he predicts Tokyo Sky Tree construction in the area."


Greaatt....


sourch : japan.net 

Senin, Maret 28, 2011

[Culture] Tokyo Sky Tree: Menara Tertinggi Kedua Di Dunia

Jepang akan segera memiliki simbol kebanggaan baru. Tokyo Sky Tree, yang akan dinobatkan sebagai menara tertinggi kedua di dunia, telah mencapai puncak penuhnya setinggi 634 meter minggu lalu.


Pembangunan Tokyo Sky Tree yang dicanangkan oleh Tobu Railway dan NHK pada tanggal 14 July 2008 itu terus berlanjut meskipun gempa bumi dahsyat mengguncang Tokyo berkali-kali dalam dua minggu terakhir ini.

 Walaupun proyeknya belum selesai, menara ini sanggup menahan gempa sekuat 8,9 SR pada 11 Maret lalu. Gempa yang disusul oleh tsunami maha dahsyat itu rupanya tidak menyebabkan kerusakan struktur pada Sky Tree ataupun menyebabkan cedera pada 500 orang yang terlibat dalam pekerjaan konstruksi pada hari itu. Padahal di sisi lain, antena di atas Tokyo Tower (333 meter) bengkok akibat gempa.


Menara yang pembangunannya menggunakan desain rangka baja anti-seismik dan menerapkan teknologi anti-gempa pada pondasinya itu memang patut dicontoh oleh proyek-proyek bangunan tinggi di seluruh dunia.

Canton Tower, menara setinggi 600 meter yang berlokasi di China, yang baru saja dinobatkan sebagai menara tertinggi kedua di dunia setelah peresmiannya dilakukan pada September 2010 lalu, akhirnya harus menyerahkan "mahkotanya" kepada Tokyo Sky Tree.

Kenapa Tokyo Sky Tree dibangun? Karena jaringan televisi Jepang akan beralih sepenuhnya menggunakan transmisi digital pada awal 2012, sehingga Tokyo Sky Tree akan mengambil alih siaran televisi dari Tokyo Tower, yang telah melayani para pemirsa di Jepang selama 52 tahun.

Mega proyek yang menelan biaya Rp. 6,8 Triliun itu akan rampung pada akhir tahun 2011 ini dan menjadikan Tokyo Sky Tree bangunan tertinggi kedua di muka bumi, satu tingkat dibawah sang pencakar langit Burj Khalifa di Dubai yang mempunyai ketinggian 828 meter.

Tokyo Sky Tree sengaja dibangun dengan ketinggian 634 meter agar mudah diingat oleh warga Jepang, karena angka 6 (mu / む・っつ), 3 (sa / さ), 4 (shi / し) berarti "Musashi".

LUAR BIASA bukan?!

sumber : jepang.net

Sabtu, April 24, 2010

[Culture] Kimono Jepang

Buat penggemar Jepang, udah pasti tau yang namanya kimono kan

Yap, but let see it's complete..
Kimono adalah pakaian tradisional negara Jepang untuk pria dan wanita yang sudah ada sejak jaman dahulu kala. Baru pada jaman Edo, kimono mengalami perubahan yang sampai sekarang masih dipertahankan, yaitu lengan kimono yang sedikit lebih panjang bagi wanita yang belum menikah dan obi (sabuk lebar untuk mengencangkan kimono) yang semakin besar.

Kimono berasal dari kata Ki yang berarti mengenakan, dan Mono yang berarti pakaian. Jadi arti kimono adalah mengenakan pakaian. Gampang banget ya.

Tapi kalo soal harga dan cara bikinnya, kimono gak ada gampangnya. Kimono yang berbahan dasar sutra bisa dihargai Rp 50 juta keatas, bahkan ada yang sampai Rp 300 juta untuk satu set lengkap bersama obi, geta (sendal khusus kimono) dan aksesoris lainnya. Cara memakainya pun tidak sembarangan dan ada namanya sendiri, yaitu Kitsuke.
So, jangan heran kalo orang-orang Jepang sendiri gak sanggup beli kimono sutra. Biasanya para orangtua-lah yang mewariskan kimono sutranya. Hanya para pejabat, artis, pesumo tingkat satu dan keluarga kerajaan yang sanggup gonta-ganti kimono sutra. Lalu bagaimana bisa banyak orang Jepang pake kimono? Untuk pesta pernikahan, mereka memang sewa kimono sutra perhari, tapi untuk pesta-pesta nonformal seperti festival kembang api dan pesta tahun baru, mereka membeli dan memakai yukata. Singkatnya, yukata adalah kimono yang bersifat kasual, lebih santai dan lebih sederhana. Yukata mengandung arti pakaian mandi, karena pada awalnya yukata hanya dipakai pada waktu sebelum dan sesudah mandi. Tapi sekarang pemakaian yukata tidak terbatas. Kapan saja boleh dipakai. Di musim panas akan lebih banyak lagi orang yang memakai yukata karena mereka merasa sejuk. Banyak orang tidak tahu kalau kimono itu banyak jenisnya, sesuai dengan tingkat formalitas dan status pemakainya. Uchikake (打掛) adalah kimono formal yang berwarna berwarna putih atau merah terang yang dipakai oleh sang pengantin di hari pernikahannya. Kurotomesode (黒留袖) adalah kimono formal berwarna hitam yang dipakai oleh para orangtua di hari pernikahan anaknya. Furisode (振袖) adalah kimono yang dipakai oleh wanita yang belum menikah di acara-acara formal dan Seijin shiki (成人式), upacara tradisional untuk merayakan sang remaja perempuan yang beranjak dewasa. Irotomesode (色留袖) adalah kimono semiformal yang dipakai oleh wanita yang telah menikah untuk menghadiri upacara pernikahan keluarganya. Homongi (訪問着), Tsukesage (付け下げ) dan Edo Komon (江戸小紋) adalah kimono-kimono semiformal yang boleh dipakai oleh wanita yang telah menikah maupun yang belum menikah untuk menghadiri acara-acara formal dan semiformal. Maiko Hikizuri (舞妓の引きずり) atau Susohiki (すそ引き) adalah kimono-kimono yang dipakai khusus oleh para geisha dan maiko. Iromuji (色無地) adalah kimono yang dipakai untuk upacara minum teh. Dan yang terakhir adalah Yukata (浴衣).

Umumnya yukata berbahan dasar katun dan dibikin dengan mesin pabrik, lain dengan kimono sutra yang dijahit sepenuhnya oleh tangan-tangan ahli. Karena itu harga yukata pun jauh berbeda dengan kimono sutra dan terjangkau oleh semua orang.

Sekarang ini kimono memang telah banyak dimodifikasi untuk mengikuti perkembangan mode dan minat kawula muda yang suka dengan kebebasan (harajuku), manga dan anime modern (cosplay). Walaupun begitu, kimono tradisional tetap menjadi primadona.

sumber: jepang.net